Ibu Kostku Ganas Sekali

Nama
saya
adalah
Aldo.
Saya
merupakan
mahasiswa
tingkat
akhir
di
sebuah
perguruan
tinggi
di
kota
Bogor.
Saya memiliki pengalaman yang
tak akan saya lupakan seumur
hidup saya. Kejadian itu terjadi
pada waktu saya masih kuliah di
tingkat 1 semester ke-2.
Saat itu saya tinggal di sebuah
rumah yang oleh pemiliknya
disewakan untuk kost kepada
mahasiswa. Saya tinggal bersama
2 orang mahasiswa lain yang
keduanya merupakan kakak
kelas saya. Pemilik rumah kos itu
adalah seorang Dosen yang
kebetulan sedang studi di Jepang
untuk mendapatkan gelar
Doktor. Ia telah tinggal di Jepang
kurang lebih 6 bulan dari
rencana 3 tahun ia di sana.
Agar rumahnya tetap terawat
maka ia menyewakan beberapa
kamar kepada mahasiswa yang
kebetulan kuliah di dekat rumah
itu. Yang menjadi Ibu kost-ku
adalah istri dari Dosen yang
pergi ke Jepang tersebut.
Namanya sebut saja Intan. Aku
sering menyebut ia Ibu Intan.
Umurnya kira-kira sekitar 30
tahunan dengan seorang anak
umur 4 tahun yang sekolah di TK
nol kecil. Jadi di rumah itu tinggal
Ibu Intan dengan seorang
anaknya, seorang pembantu
rumah tangga yang biasa kami
panggil Bi Ana, kira-kira berumur
50 tahunan, aku dan kakak
kelasku bernama Kardi dan Jun.
Ibu Intan memiliki tubuh yang
lumayan. Aku dan kedua kakak
kelasku sering mengintip dia
apabila sedang mandi. Kadang
kami juga sering mencuri-curi
pandang ke paha mulusnya
apabila kami dan Ibu nonton tivi
bareng. Ibu Intan sering memakai
rok apabila dirumah sehingga
kadang-kadang secara tidak
sadar sering menyingkapkan
paha putihnya yang mulus. Ibu
Intan memiliki tinggi kurang lebih
sekitar 165 cm dengan bodinya
yang langsing dan putih mulus
serta payudara yang indah tapi
tak terlalu besar kira-kira
berukuran 34 B (menurut nomer
dikutangnya yang aku liat di
jemuran). Ibu Intan memiliki wajah
yang lumayan imut (mirip anak-
anak). Dia sangat baik kepada
kami, apabila dia menagih uang
listrik dan uang telepon dia
meminta dengan sopan dan halus
sehingga kami merasa betah
tinggal di rumahnya.
Pada suatu malam (sekitar bulan
maret), kebetulan kedua kakak
kelasku lagi ada tugas lapangan
yang membuat mereka mesti
tinggal di sana selama sebulan
penuh. Sedangkan anak Bu Intan
yang bernama Devi lagi tinggal
bersama kakeknya selama
seminggu. Praktis yang tinggal di
rumah itu cuma aku dan Ibu
Intan, sedangkan Bi Ana tinggal
di sebuah rumah kecil di halaman
belakang yang terpisah dari
rumah utama yang dikost-kan.
Malam itu kepalaku sedikit pusing
akibat tadi siang di kampus ada
ujian Kalkulus. Soal ujian yang
sulit dan penuh dengan hitungan
yang rumit membuat kepalaku
sedikit mumet. Untuk
menghilangkan rasa pusing itu,
malamnya aku memutar
beberapa film bokep yang
kupinjam dari teman kuliahku.
“ Lumayan lah, mungkin bisa
ngilangin pusingku”, pikirku.
Aku memang biasa nonton bokep
di komputerku di kamar kosku
apabila kepala pusing karena
kuliah.
Pada saat piringan kedua disetel,
tiba-tiba aku dikagetkan oleh
suara pintu kamarku terbuka.
“ Hayo Aldo, nonton apaan
kamu?” Ibu Intan berkata
padaku.
“ Astaga, aku lupa menutup pintu
kamar” gerutuku dalam hati.
Ibu Intan telah masuk ke
kamarku dan memergoki aku
sedang nonton film bokep. Aku
jadi salah tingkah sekaligus malu.
“ Anu bu, aku cuma..” jawabku
terbata-bata.
“ Boleh Ibu ikut nonton?” katanya
bertanya padaku
“ Boleh..” jawabku seakan tak
percaya kalo dia akan nonton
film bokep bareng aku.
“ Dah lama nih Ibu ga nonton film
kaya’ gini. Kamu sering nonton
ya?” katanya menggodaku.
“Ah, gak bu..” jawabku
“Hmm.. bagus juga adegannya”
dia berkata sambil memandang
adegan yang berlangsung.
Akhirnya kami sama-sama
menonton film bokep tersebut.
Kadang-kadang dia meremas-
remas payudaranya sendiri yang
membuat kemaluanku berdiri
tegak. Dia memakai daster putih
malam itu kontras dengan
kutang dan celana dalam warna
hitam. Kadang aku melirik dia
dengan sesekali memperhatikan
dia yang sesekali memegang
kemaluannya dan
menggoyangkan pinggulnya
seperti cewe yang sedang
menahan kencing. Pemandangan
itu membuat darahku mendesir
dan membuat batang
kejantananku berontak dengan
sengit di dalam celana dalamku.
Tiba-tiba dia bertanya, “Do,
kamu pernah melakukan seperti
yang di film tadi ga?”
Aku terkejut mendengar kata-
kata itu terlontar dari mulutnya.
“ Belum” jawabku.
“Ah masa?” tanya dia seakan
tak percaya.
“ Bener bu, sumpah.. aku masih
perjaka kok” jawabku.
“Kalo pacarmu ke kamarmu
ngapain aja? ayo ngaku”
tanyanya sambil tersenyum kecil.
“ Ah ga ngapa-ngapain kok bu,
paling cuma diskusi masalah
kuliah” jawabku.
“Yang bener.. trus kalian ampe
buka-bukaan baju ngapain?
emang Ibu ga tau.. ayo ngaku
aja, Ibu dah tau kok” tanyanya
sambil mencubit pipiku.
Wajahku jadi merah padam
mendengar dia berkata seperti
itu, ternyata ia sering ngintipin
aku ama pacarku.
“ Iya deh.. aku emang sering
bermesraan sama pacarku tapi
ga sampai ML, paling jauh cuma
oral dan petting aja” jawabku
jujur.
“ Ohh..”, katanya seakan tak
percaya.
Akhirnya kita terdiam kembali
menikmati film bokep. Akhirnya
film itu selesai juga juga.
“ Do, kamu bisa mijit ga”,
tanyanya.
“ Dikit-dikit sih bisa, emang
kenapa bu?”
“Ibu agak pegel-pegel dikit nih
abis senam aerobik tadi sore. Bi
Ana yang biasa mijetin dah tidur
kecapekan kerja seharian, bisa
kan?”
“Boleh, sekarang bu?”
“Ya sekarang lah, di kamar Ibu
yah.. ayo”.
Aku mengikuti Ibu Intan dari
belakang menuju ke kamarnya.
Baru pertama kali ini aku masuk
ke kamar Ibu kosku itu.
Kamarnya cukup luas dengan
kamar mandi di dalam, kasur
pegas lengkap dengan ranjang
model eropa. Di sebelahnya ada
meja rias, lemari pakaian dan
meja kerja suaminya. Kamar yang
indah.
“ Ini minyaknya”, Bu Intan
menyerahkan sebotol minyak
khusus buat memijat.
Minyak yang harum, pikirku. Aku
emang belum pernah mijat tapi
saat ini aku harus bisa. Ibu Intan
kemudian membuka dasternya,
hanya tinggal kutang dan celana
dalam hitam yang terbuat dari
sutera. Melihat pemandangan ini
aku hanya bisa melongok takjub,
tubuhnya yang putih mulus tepat
berdiri di hadapanku.
“Ayo mo mijit ga? Jangan
bengong gitu”.
Aku terhentak kaget. Aku lupa
kalo saat itu aku mo mijit dia.
Akhirnya dia berbaring telungkup
dia atas kasur. Aku mulai
melumuri punggungnya dengan
minyak tersebut. Aku mulai
memijit dengan lembut. Kulitnya
lembut sekali selembut sutera,
kayanya dia sering melakukan
perawatan tubuh, pikirku dalam
hati.
“ Ahh.. enak juga pijatanmu Do,
aku suka.. lembut sekali. ”
Aku memijat dari bahunya sampai
mendekati pantat, berulang-
ulang terus.
“ Do, tolong buka kutangku. Tali
kutangnya ga nyaman, ganggu
pijatannya” katanya menyuruh
aku tuk membuka kutangnya.
Aku membuka tali kutangnya dan
Ibu Intan kemudian melepas
kutangnya. Sesekali aku memijat
sambil menggelitik daerah
belakang telinganya.
“ Ssshh.. ahh..” dia mendesah
apabila daerah belakang
telinganya kugelitik dan apabila
lehernya kupijat dengan halus.
“ Do, tolong pijat juga kakiku ya..”
katanya.
Aku mulai meminyaki kakinya
yang panjang dan ramping.
Sungguh kaki yang indah. Putih,
bersih, mulus, tanpa cacat
dengan sedikit bulu-bulu halus di
betis. Pikiranku mulai omes, aku
sedikit kehilangan konsentrasi
ketika memijat bagian kakinya.
“ Do, tolong pijat sampai ke
pangkal paha ya..” pintanya
sambil memejamkan mata.
Ketika tanganku memijat bagian
pangkal pahanya, dia
memejamkan mata sambil
mendesah seraya menggigit bibir
pertanda dia mulai “panas”
akibat pijatanku. Aku mulai nakal
dengan memijat-mijat sambil
sesekali menggelitik daerah-
daerah sensitifnya seperti leher
dan pangkal pahanya. Dia mulai
menggeliat tak karuan yang
membuat kejantananku berontak
dengan keras di celana dalamku.
Tiba-tiba dia berkata, “Do, bisa
mijit daerah yang lain ga?”
“Daerah yang mana bu?”
Tiba-tiba dia membalikkan
badannya seraya membimbing
kedua tanganku ke atas
payudaranya. Posisi badannya
sekarang adalah telentang. Dia
hampir telanjang bulat, hanya
tinggal segitiga pengamannya
saja yang belum terlepas dari
tempatnya. Aku tertegun melihat
pemandangan itu. Payudaranya
yang indah membulat menantang
seperti sepasang gunung kembar
lengkap dengan puncaknya yang
kecoklatan. Aku meremasnya
dengan lebut sambil sesekali
melakukan “summit attack”
dengan jari jemariku
mempermainkan putingnya.
Seperti memutar tombol radio
ketika mencari gelombang.
Ia mulai menggelinjang tak
karuan.
“ Ahh.. oohh.. sshh”, dia mendesah
sambil membenamkan kepalaku
menuju payudaranya.
“ Do.. Jilatin payudaraku Do..
cepat..”.
Aku mengabulkan permintaannya
dengan memainkan lidahku diatas
putingnya. Lidahku bergerak
sangat cepat mempermainkan
putingnya secara bergantian
seperti penari samba yang
sedang bergoyang di atas
panggung.
“ Oohh.. yyess.. uukkhh..” Dia terus
mendesah sambil
mencengkramkan tangannya di
pundakku.
Dia memeluku dengan erat.
Semakin cepat aku meminkan
lidahku semakin keras
desahannya. Lidahku mulai naik
ke daerah leher dan bergerilya
di sana. Bergerak terus ke
belakang telinga sambil tanganku
memainkan putingnya. Dia terus
mendesah dan dengan sangat
terlatih membuka baju dan
celanaku. Sekarang yang kupakai
hanya celana dalam yang
menutupi rudal Scud-ku. Kami
mulai berpelukan dan berciuman
dengan ganasnya. Ternyata dia
sangat ahli dalam mencium.
Bibirnya yang lembut dan lidah
kami yang saling berpagutan
membuatku serasa melayang
seperti lalat.
Dia mulai menciumi leherku dan
sesekali menggigit kupingku. Aku
semakin rakus dengan
menjilatinya dari mulai leher
sampai ujung kaki.
“ Aahh..”, aku mendesah ketika
tangannya menyusup ke
markasku mencari rudalku,
mengenggamnya dan
mengocoknya dengan tangannya
yang lembut.
Dengan bantuan kakinya dia
menarik celana dalamku sehingga
celana dalamku terlepas. Aku
telah telanjang bulat. Terlihat
seorang prajurit lengkap dengan
topi bajanya berdiri tegak siap
untuk melaksanakan tugas yang
diberikan oleh atasannya.
“ Oohh.. auhh.. sshh..”, dia terus
memainkan prajuritku dengan
tangannya.
Tanganku mulai membuka celana
dalamnya yang telah basah oleh
cairan pelumas yang keluar dari
dalam lobang vaginanya. Terlihat
sebuah pemandangan yang indah
ketiga segitiga pengaman itu
terlepas. Sebuah pemandangan
yang sangat indah di daerah
selangkangan. Jembutnya yang
rapi terurus dan vaginanya yang
berwarna merah muda membuat
darahku mendesir dan
kejantananku semakin menegang.
“ Oohh.. nikmaatt.. truss..”, dia
berkata sambil mendesah ketika
lidahku menggelitik daging kecil di
atas lobang vaginanya.
“ Oohh.. sshh.. Yess.. truuss..”
Semakin cepat aku memainkan
lidahku semakin cepat juga dia
mengocok kontolku. Aku terus
mempercepat ritme lidahku,
badannya semakin bergerak tak
terkontrol. Tanpa sadar
tangannya membenamkan
kepalaku ke selangkangannya,
aku hampir tak bisa bernapas.
Aku mencium aroma khas vagina
yang harum yang membuat
lidahku terus menjilati klitorisnya.
“ Ohh.. Ssshh.. Ukhh”, dia terus
mendesah.
“ Do.. ahh.. lebih cepat.. ukhh.. aku
mo keluar nih..”
“Ahh..”, terdengar lenguhan
panjang dari bibirnya yang
mungil.
“ Aukhh..”, tiba-tiba badannya
menegang hebat.
Kedua tangannya menggenggam
kepalaku dengan erat dan
vaginanya semakin basah oleh
cairan yang keluar. Dia mengalami
orgasme klitoris, yaitu orgasme
yang dihasilkan akibat perlakuan
pada kelentitnya.
“ Do, nikmat sekali.. Aku tak
menyangka kamu pandai bersilat
lidah”, katanya sambil napasnya
terengah-engah.
Ketika aku siap untuk
menembakkan rudalku, tiba-tiba
ia berkata, “Do, aku punya
sebuah permainan untukmu”.
“Permainan apa?” tanyaku.
“Pokoknya kamu ikut aja,
permainan yang mengasyikkan.
Mau?” tanyanya.
“Oke..”, jawabku.
Dia mengambil sebuah slayer dan
menutup mataku, kemudian
menyuruhku berbaring
terlentang dan mengikut kedua
tanganku dengan selendang
yang telah ia siapkan. Kedua
tanganku dan kakiku diikat ke
empat penjuru ranjang sehingga
aku tak bisa bergerak. Yang bisa
aku gerakkan cuma pinggulku
dan lidahku. Aku pun tak bisa
melihat apa yang dia lakukan
padaku karena mataku tetutup
oleh slayer yang dia ikatkan. Aku
seperti seorang tawanan. Aku
hanya bisa merasakan saja. Tiba-
tiba aku merasakan lidahnya
mulai bergerilya dari mulai ujung
kakiku. Trus bergerak ke
pangkal paha.
“ Ahh”, aku mendesah kecil.
Lidahnya terus bergerak ke ke
atas menuju perutku, terus
menjilati daerah dadaku.
“ Oohh.. Ssshh..”, aku mulai
mendesah keenakan. Lidahnya
terus naik ke leherku dan
mencium bibirku. Kemudian
lidahnya mulai turun kembali.
“ Ohh.. yyeess.. uukkhh..”, aku
mendesah hebat ketika lidahnya
bermain di daerah antara lubang
anus dan biji pelerku.
“ Aahh..”, aku terus mendesah
ketika dia mulai menjilati batang
kemaluanku dari mulai pangkal
sampai kepalanya, terus
menerus, membuat tubuhku
berkeringat hebat menahan rasa
yang amat sangat nikmat.
“Panjang juga ya punya kamu”,
Ibu Intan berkata padaku seraya
mengulum penisku masuk ke
dalam mulutnya.
“ Ahh.. eenaakk.. sshh”, aku
mendesah ketika batang
kejantananku mulai keluar masuk
mulutnya.
Sesekali dia menghisapnya
dengan lembut. Dia terus
mengulum penisku dan semakin
lama semakin cepat. Dia memang
ahli, pikirku. Tidak seperti
kuluman pacarku yang masih
minim pengalaman. Ibu Intan
merupakan pengulum yang mahir.
“ Aahh.. ahh.. ah.. aahh.. sshh..
teruss”, aku memintanya supaya
mempercepat kulumannya. Ingin
rasanya menerkam dia dan
menembakkan rudalku tapi apa
daya kedua kaki dan tanganku
terikat dengan mataku tertutup.
Tiba-tiba ada sesuatu di dalam
penisku yang ingin mendesk
keluar.
“ Ahh.. sshh.. Bu, aku mo keluarr”,
kataku
Mendengar itu, semakin cepat
ritme kulumannya dan
membuatku tak tahan lagi untuk
mengeluarkan spermaku.
“ Aaahh..”, aku mengerang hebat
dan tubuhku mengejang serta
gelap sesaat ketika cairan itu
mendesak keluar dan muncat di
dalam mulut Bu Intan.
Aku seperti melayang ke awang-
awang, rasanya nikmat sekali
ingin aku teriak enak.
“ Enak juga punyamu Do, protein
tinggi”, katanya seraya menjiltai
sperma yang tumpah.
Tiba-tiba aku tak merasakan
apa-apa. Tak lama kemudian aku
mencium aroma khas vagina di
depan hidungku. Ternyata Bu
Intan meletakkan vaginanya
tepat di mulutku dan dengan
cepat aku mulai memainkan
lidahku.
“ Sshh.. truuss.. ahh.. eennaakk..”,
ia mendesah ketika lidahku
memainkan kembali daging kecil
miliknya. Semakin ia mendesah
semakin aku terangsang.
Tak lama kemudian prajurit
kecilku kembali menegang hebat.
“ Aahh.. sshh.. Ukkhh.. yess”, ia
semakin hebat mendesah
membuat rudalku telah mencapai
ereksi yang maksimal akibat
desahannya yang erotis.
Lama kelamaan vaginya semakin
basah kuyup oleh cairan yang
keluar akibat terangsang hebat.
“ Aku ga tahan lagi Do”, katanya
seraya mengangkat vaginanya
dari mulutku.
Dia memindahkan vaginanya dari
mulutku dan entah kemana dia
memindahkannya karena mataku
tertutup oleh slayer yang dia
ikatkan kepadaku. Tiba-tiba aku
merasakan kemaluanku
digenggam oleh tangannya dan
dituntun untuk masuk ke dalam
sutau lubang hangat sempit dan
basah oleh cairan pelumas. Ahh..
baru pertama kali ini aku
merasakan nikmatnya vagina.
Meskipun Ibu Intan bukan
perawan tapi yang kurasakan
sempit juga juga vaginanya.
Dengan perlahan Ibu Intan mulai
membenamkan kemaluanku ke
dalam vaginanya sehingga
seluruh kemaluanku habis ditelan
oleh vaginanya. Aku merasakan
nikmat dan geli yang luar biasa
ketika kemaluanku masuk ke
dalam vaginanya. Posisiku
telentang dengan Bu Intan duduk
di atas kemaluanku persis
seperti seorang koboi yang
sedang bermain rodeo.
Dengan perlahan tapi pasti, Ibu
Intan mulai memainkan pinggulnya
naik turun secara perlahan.
“ Aaahh.. uuhh”, desahku ketika
Ibu Intan memainkan pinggulnya
naik turun secara perlahan dan
sesekali memutarkan pinggulnya.
Itu membuat diriku seperti
melayang ke udara. Aku pun
mulai menggoyangkan pantatku
naik turun.
“ Do.. giillaa.. enaakk ssekali..”,
teriak Bu Intan.
Aku tak mampu untuk berkata-
kata lagi. Aku hanya bisa
mendesah dan mendesah. Lama
kelamaan Ibu Intan mulai
mempercepat ritme
goyangannya, naik turun dan
sesekali memutarkan pinggulnya.
Tak mau kalah, aku pun mulai
mempercepat sodokanku.
“ oohh.. yess.. ohh..”, desah Ibu
Intan.
“ Ahh.. uhh.. goyang terruss buu”,
kataku.
“ Enaakk.. Doo.. tolong cepetin
sodokanmu Do..”, katanya.
Sodokanku semakin cepat dan
semakin cepat pula Ibu Intan
menggoyangkan pinggulnya.
“ Ohh.. shit.. oohh.. nnikkmmat..”,
Ibu Intan berteriak seraya
menjambak rambutku.
Dia mulai membuka slayerku. Aku
bisa melihat pemandangan yang
sungguh menakjubkan sekaligus
menggairahkan di depanku.
Tubuh Ibu Intan yang bergoyang
membuat rambutnya acak-
acakan dan seluruh tubuhnya
penuh dengan keringat.
Payudaranya yang putih bersih
dengan putingnya yang
kecoklatan ikut bergoyang
seirama dengan goyangan
pinggulnya yang mengocok
kemaluanku. Mukanya yang manis
dengan mata yang sesekali
merem melek, mulutnya yang
mendesah dan sesekali
mengeram serta wajahnya yang
dipenuhi keringat membuat ia
keliatan seksi dan
menggairahkan.
“ Ahh.. shit.. oh.. god.. ohh.. enak..”,
desahnya.
Aku melihat Ibu Intan yang setiap
hari terlihat lembut ternyata
memiliki sisi yang sangat
menggairahkan dan terlihat haus
akan sex. Ibu Intan pandai
memainkan ritme goyangannya,
kadang dia melambatkan
goyangan pinggulnya kadang
dengan tiba-tiba
mempercepatnya. Aku hanya bisa
mengikuti perrmainannya dan
aku sangat menikmatinya.
“Aaahh..!”, aku berteriak
keenakan ketika aku merasakan
diantara goyangannya yang
mengocok kemaluanku,
vaginanya seperti menghisap
kemaluanku.
“ Mampus kamu Do.. tapi enak
kan? Itu namanya “hisapan
maut”.. Ibu mempelajarinya
melalui senam Keggel..”, katanya
sambil memandangku dengan liar.
Aku semakin mempercepat
sodokanku dan Ibu Intan pun
mempercepat goyangannya naik
turun dan berputar secara
bergantian sesekali dilakukannya
hisapan maut yang membuat
seluruh tulang dalam tubuhku
seperti terlepas dari
persendiannya. Ibu Intan mulai
menciumi leherku dan bibirku.
Kami semain “panas” dan lidah
kami saling berpagutan
sementara sodokan kemaluanku
dan goyang pinggulnya semakin
lama semakin cepat.
“ Uhh.. ahh.. shh.. ahh..”, aku
mendesah.
Ibu Intan semakin ganas
menciumiku seraya aku
mempercepat sodokannya. Aku
merasakan sesuatu akan keluar
mendesak dari penisku.
“ Bu Intan.. ahh.. uhh.. shh.. akkuu
mauu kkeluarr..”, kataku.
“Ibu juga.. ahh.. tahann.. kita
keluarin sama-sama.. sshh ahh..”.
“Aku ga tahan lagi bu..”.
Tiba-tiba Ibu Intan berteriak
panjang.
“ Aaahh..” sambil memelukku
dengan sangat erat.
“ Aaahh..”. bersamaan dengannya
aku merasakan penisku
memuntahkan cairan hangat di
dalam vaginanya.
Kami berciuman dan kurasakan
tubuhnya dan tubuhku
mengejang hebat menahan
kenikmatan yang amat sangat.
Gelap sesaat yang diiringi
kenikmatan yang luar biasa
membuat tubuhku seperti
melayang jauh ke awang-awang.
Nikmatnya melebihi masturbasi
yang sesekali aku lakukan.
Kami sama-sama terkulai lemas
dengan napas yang terengah-
engah seperti dua olahragawan
yang telah balap lari. Ibu Intan
menatapku sambil tersenyum
manis. Aku hanya terdiam
menatap langit-langit.
“ Do, kamu nyesel ga ML sama
Ibu?”, tanya Ibu Intan kepadaku.
“Nggak bu..”.
“Terus kenapa kamu termenung
begitu?”.
“Aku cuma bingung, aku kan
mengeluarkan sperma di dalam
vagina Ibu, aku cuma khawatir
nanti Ibu hamil gara-gara saya”
“Ha.. ha.. ha.. jadi itu yang kamu
khawatirkan?”
“Iya bu. ”
“Tenang aja, Ibu teratur ko
minum pil kb. Jadi kamu ga perlu
khawatir?”
Apa yang dikatakannya
membuatku tenang. Akhirnya
kami berbicara ngalor ngidul. Dan
kami juga bercanda dan tertawa.
Kami ngobrol dan becanda dalam
keadaan bugil tanpa busana
sehelai benang pun menempel di
tubuh kami.
“ Do, kamu lapar ga? Ibu lapar”,
katanya.
“ Iya bu”
“Ibu masakin kamu nasi goreng
spesial buatan Ibu ya?”
“Boleh”, jawabku.
Kami berpakaian kembali. Ibu
Intan hanya menggunakan
daster putih tanpa memakai
kutang dan celana dalam,
sedangkan aku hanya
menggunakan celana pendek saja
tanpa menggunakan baju. Aku
menunggu di meja makan sambil
nonton MTV dan Ibu Intan di
dapur memasak nasi goreng.
Akhirnya nasi goreng pun selesai
di masak dan kami makan
bersama-sama di meja makan.
Meja makannya cukup besar,
terbuat dari kayu jati dengan
motif yang indah. Di sisi lain meja
makan terdapat susu kental
manis, teh celup, sebotol madu,
tempat sendok dan garpu,
serbet dan alas makan.
Setelah makan selesai, aku dan
Ibu Intan membersihkan meja
makan bekas kami makan. Kami
mulai bercanda-canda lagi. Tanpa
sadar aku mulai becanda sedikit
porno dan darahku mulai
berdesir melihat ia berpakaian
daster tanpa menggunakan
kutang dan celana dalam.
Tampak samar-samar putingnya
menonjol seakan ingin merobek
daster yang dikenakannya.
Bayangan hitam di
selangkangannya (jembut)
merupakan pemandangan yang
indah.
“ Ibu cantik dan seksi pake
daster itu”, kataku.
“Kamu ngerayu Ibu ya..”
“Bener lho bu, apalagi ga pake
kutang dan celana dalem”
“Ah kamu.. mulai nakal ya”,
katanya sambil nyubit pipiku.
Prajuritku sedikit demi sedikit
mulai kembali berdiri tegak. Ini
akibat dari mataku yang selalu
tertuju pada gundukan hitam di
balik daster Ibu Intan.
“ Lho.. kok bangun lagi prajurit
kecilmu, mo tempur lagi ya”,
katanya.
Aku tidak segera menjawab
karena tangan Ibu Intan sudah
mulai menyusup ke dalam
celanaku yang emang ga make
kolor. Dengan lembut ia mulai
mengocok penisku.
“ Ahh..”, aku mendesah kecil, lalu
kami mulai berciuman dengan
mesranya.
Tanpa sadar ketika berciuman
tangan kami bergerilya dan mulai
melucuti pakaian masing-masing.
Kami sudah telanjang bulat dan
kami masih terus berciuman
sementara tangan Ibu Intan
mengocok penisku dengan
lembutnya. Hmm.. rasanya nikmat
sekali. Tidak tau gimana awalnya
tetapi kami sudah berada di atas
meja makan, terbaring sambil
berciuman. Ibu Intan dalam posisi
telentang dan aku berada di
atasnya.
Aku mulai menciumi lehernya dan
terus bergerak ke belakang
telinga.
“ Aaahh..”, Ibu Intan mendesah
ketika lidahku mulai bergerak
lincah dan menjilati kedua puting
susunya secara bergantian
sementara tanganku yang lain
memainkan klitorisnya.
Vaginanya mulai basah akibat
cairan pelumas yang keluar dari
lubang kenikmatannya.
Tangannya terus mengocok
kontolku.
“ Do.. enak.. sshh..”, desahnya
sambil memejamkan mata.
Kami mulai berganti posisi, Ibu
Intan yang mengarahkannya.
Giliranku telentang dan Ibu Intan
berada di atasku dengan posisi
terbalik. Kami melakukan gaya
69. Aku menjilati klitorisnya
dengan rakus seperti orang
kelaparan yang bertemu
makanan sementara Ibu Intan
menghisap kontolku dengan
lembut dan sesekali menjilati
kepala penisku yang membuat
merasa seperti tersengat listrik.
“ Uhh.. sshh..”, aku mendesah
ketika hisapan Ibu Intan senakin
kuat.
Semakin cepat lidahku
menggelitik klentitnya semakin
ganas pula dia mengulum penisku.
Aku bangkit dan Ibu Intan
kuposisikan telentang di atas
meja dengan kaki mengangkang.
Terlihat dua buah gunung
kembar yang sangat indah yang
membuat darahku berdesir
hebat. Sementara di
selangkangannya terdapat bibir
merah muda yang merekah
lengkap dengan bulu-bulunya
yang membuat rudalku semakin
mengeras. Aku segera meraih
kaleng susu kental manis di
sampingku dan perlahan-lahan
mengoleskannya ke seluruh
tubuh Ibu Intan dari mulai leher
sampai dengan ujung kaki.
Kemudian aku mengoleskan madu
disekitar puting dan
kemaluannya. Aku mulai
menjilatinya mulai dari leher. Ibu
Intan hanya bisa pasrah dengan
mata terpejam dan dari
mulutnya terdengar desahan
kecil. Lidahku bergerak turun ke
arah bahunya, kemudian
bergerak menuju payudaranya.
Tubuh Ibu Intan menggelinjang
ketika lidahku menari-nari di
atas puncak gunung kembarnya.
“ Do.. aahh.. sshh.. Ibu ga tahan..
masukin Do..”, Ibu Intan meminta
aku segera menusukkan penisku
ke dalam vaginanya.
Tapi aku pura-pura tak
mendengar. Lidahku mulai
bergerilya lagi menjilati semua
susu kental yang menempel di
tubuhnya. Lidah mulai bergerak
lagi ke arah perut. Lalu aku mulai
menjilati dari ujung kaki Ibu
Intan, naik ke betis terus ke
pangkal paha. Ketika lidahku
menjilati cairan madu yang
membasahi sekitar kemaluan dan
klitorisnya, Ibu Intan
menggelinjang hebat dan tanpa
sadar semakin membenamkan
kepalaku ke vaginanya. Semakin
ganas aku menjilati madu yang
ada di klitorisnya, semakin tak
terkendali juga tubuh Ibu Intan
menggelinjang.
“Sshh.. oughh.. aahh.. pleeaassee..
masukin Do..”, katanya seraya
menghisap jari telunjukku.
Dia mengangkat kakinya dan
menyimpannya di atas bahuku
sementara aku berdiri di atas
lutut. Perlahan aku mulai
memasukkan penisku. Vaginanya
yang sudah basah kuyup dan licin
memudahkanku untuk
membenamkan seluruh penisku
ke lubang sorga dunia miliknya.
“ Aahh.. nnikmmaatt..”, teriaknya
sambil menggoyangkan
pinggulnya melingkar.
Aku mulai memainkan sodokanku.
Kecepatannya semakin lama
semaikn kutambah begitu pula
goyangan pinggul Ibu Intan.
“ Ibu.. enaakk.. uhh.. shh..”,
desahku sambil memejamkan
mata.
“ Aahh.. sshh.. mm..”, ia mendesah
sambil menghisap jari tanganku.
Suara becek vagina Ibu Intan
yang dikocok oleh penisku
terdengar seperti sebuah
nyanyian yang merdu. Sesekali
terdengar bunyi derak meja
makan tempat kami bercinta.
Kami berganti posisi. Ibu Intan
membelakangiku dengan posisi
menungging dan aku menusuknya
dari belakang. Tubuh kami
semakin basah kuyup oleh
keringat. Keringat Ibu Intan yang
bercampur dengan cairan susu
kental menimbulkan wangi yang
semerbak. Kami semakin
terhanyut ke dalam dunia yang
entah dimana.
“ Teerruuss.. cepett.. lebih..
cepett.. aahh..”, Ibu Intan
mendesah sambil memintaku
untuk mempercepat sodokanku.
Kami berganti posisi lagi. Aku
dalam posisi duduk dan Ibu Intan
duduk dipangkuanku sementara
penisku asyik bergulat di dalam
lubang vaginanya.
“ Aahh.. sshh.. goyang terruss..”,
desahku ketika Ibu Intan mulai
bergoyang dengan ganasnya.
Kami berciuman sementara
penisku dikocok oleh lubang
vaginanya Ibu Intan yang sangat
hangat sekali. Vagina Ibu Intan
semakin banyak mengeluarkan
cairan pelumas yang hangat.
Suara becek yang diakibatkan
oleh sodokan kontolku dan
beceknya lubang vagina Ibu Intan
semakin keras.
“ Aaahh.. sshh.. aahh.. oohh..
yess..” desahku.
“Faster.. oohh.. aahh.. ssh..
faster.. Do..”, desah Ibu Intan
sambil memintaku untuk
mempercepat sodokan penisku.
Sementara penisku “bermain” di
dalam lubang vaginanya Ibu
Intan, lidahku juga mulai
memainkan putingnya. Itu
membuat tubuh Ibu Intan
semakin bergerak tak karuan,
goyangan pinggulnya semakin
ganas dan sesekali dia menggigit
leherku untuk menahan
kenikmatan yang dia rasakan.
Semakin lama semakin
kupercepat sodokan penisku dan
gelitikan lidahku di putingnya
semakin kupercepat pula,
semakin ganas juga Ibu Intan
bergoyang.
“ Aahh..!”, Ibu Intan melenguh
panjang sambil memelukku
sangat erat sekali, tubuhnya
menegang hebat, matanya
terpejam dan kurasakan ada
cairan hangat kental mengguyur
penisku. Ibu Intan mengalami
orgasme. Aku semakin
mempercepat sodokanku. Tubuh
Ibu Intan mulai melemas tapi aku
terus mempercepat sodokanku.
“ Ahh.. Ibu Intan.. aku mo keluarr..
sshh.. ahh”, ada sesuatu di dalam
penisku yang mulai bergerak dan
geli bercampur enak yang
kurasakan mulai meningkat.
“ Do.. keluarin di luar ya.. di
mulutku..”, pinta Ibu Intan.
Aku mencabut penisku dan
dengan rakusnya Ibu Intan
segera menghisap kontolku
dengan ganas.
“ Aahh..”, tubuhku mengejang,
mataku terpejam dan tubuhku
seperti melayang menembus
atmosfer bumi. Rasanya sangat
nikmat sekali, sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Aku
memuncratkan air maniku di
dalam mulut Ibu Intan.
Ibu Intan terus menghisap
penisku dengan ganas.
“ Aahh.. sshh”, aku mendesah kecil
ketika penisku yang mulai loyo
terus dijilati oleh Ibu Intan.
Lidah Ibu Intan terus menjilatinya
sampai bersih. Lalu kami sama-
sama terbaring lemas di atas
meja makan. Kami masih
berpelukan.
“ Nikmat sekali hari ini.. thanks ya
Do..”, Ibu Intan berkata kepadaku
sambil menatapku.
“ Sama-sama.. aku seharusnya
yang berterima kasih..”, kataku
sambil membelai rambut Ibu Intan.
Kami lalu berciuman lalu
berpelukan. Karena kecapean,
kami pun langsung tertidur di
atas meja makan tempat kami
bermain kenikmatan.
Aku terbangun ketika cahaya
sudah terang. Aku melihat jam
dinding, wah.. ternyata pukul
setengah tujuh pagi. Kulihat Ibu
Intan masih tertidur di pelukanku
di atas meja makan yang
berantakan tanpa sehelai
benang pun menempel di tubuh
kami.
“ Bu.. bangun..”, bisikku di telinga
Ibu Intan.
Wajahnya terlihat begitu cantik
ketika tertidur.
“ Jam berapa sekarang Do?”
“Setengah tujuh”.
“Hah.. setengah tujuh?!”, Ibu
Intan kaget dan segera bangun.
Kami segera berpakaian dan
membereskan meja yang
berantakan. Kami takut
kepergok oleh Bi Ana. Ibu Intan
kemudian masuk kamarnya dan
mandi di kamar mandi yang ada
didalam kamarnya, aku pun
segera mandi di kamar mandi lain
yang letaknya dekat dengan
kamarku. Sekitar jam tujuh Bi
Ana datang dan mulai dengan
aktifitas sehari-harinya.
Untunglah aku dan Ibu Intan
tidak bangun terlambat sehingga
perbuatan kami semalam tidak
diketahui oleh Bi Ana.
*****
Setiap ada kesempatan dan
kalau nggak ada orang di rumah,
aku dan Ibu Intan sering
melakukan ML, kadang di
kamarnya, di kamarku, di kamar
mandi, ruang tamu dan di dapur
juga pernah. Tiga bulan kemudian
tepatnya bulan juni, Ibu Intan
dan anaknya menyusul suaminya
di Jepang. Dan aku pun pindah
kos karena rumah Ibu Intan diisi
oleh adik suaminya. Suami Ibu
Intan akhirnya mendapatkan
kerja di Jepang di tempat ia
kuliah, oleh karena itu sampai
saat ini Ibu Intan, anaknya serta
suaminya menetap di Jepang.
Aku tak akan pernah melupakan
pengalamanku ini seumur
hidupku. Terima kasih Ibu Intan,
Ibu kost-ku sekaligus guru
seksku.Nama
saya
adalah
Aldo.
Saya
merupakan
mahasiswa
tingkat
akhir
di
sebuah
perguruan
tinggi
di
kota
Bogor.
Saya memiliki pengalaman yang
tak akan saya lupakan seumur
hidup saya. Kejadian itu terjadi
pada waktu saya masih kuliah di
tingkat 1 semester ke-2.
Saat itu saya tinggal di sebuah
rumah yang oleh pemiliknya
disewakan untuk kost kepada
mahasiswa. Saya tinggal bersama
2 orang mahasiswa lain yang
keduanya merupakan kakak
kelas saya. Pemilik rumah kos itu
adalah seorang Dosen yang
kebetulan sedang studi di Jepang
untuk mendapatkan gelar
Doktor. Ia telah tinggal di Jepang
kurang lebih 6 bulan dari
rencana 3 tahun ia di sana.
Agar rumahnya tetap terawat
maka ia menyewakan beberapa
kamar kepada mahasiswa yang
kebetulan kuliah di dekat rumah
itu. Yang menjadi Ibu kost-ku
adalah istri dari Dosen yang
pergi ke Jepang tersebut.
Namanya sebut saja Intan. Aku
sering menyebut ia Ibu Intan.
Umurnya kira-kira sekitar 30
tahunan dengan seorang anak
umur 4 tahun yang sekolah di TK
nol kecil. Jadi di rumah itu tinggal
Ibu Intan dengan seorang
anaknya, seorang pembantu
rumah tangga yang biasa kami
panggil Bi Ana, kira-kira berumur
50 tahunan, aku dan kakak
kelasku bernama Kardi dan Jun.
Ibu Intan memiliki tubuh yang
lumayan. Aku dan kedua kakak
kelasku sering mengintip dia
apabila sedang mandi. Kadang
kami juga sering mencuri-curi
pandang ke paha mulusnya
apabila kami dan Ibu nonton tivi
bareng. Ibu Intan sering memakai
rok apabila dirumah sehingga
kadang-kadang secara tidak
sadar sering menyingkapkan
paha putihnya yang mulus. Ibu
Intan memiliki tinggi kurang lebih
sekitar 165 cm dengan bodinya
yang langsing dan putih mulus
serta payudara yang indah tapi
tak terlalu besar kira-kira
berukuran 34 B (menurut nomer
dikutangnya yang aku liat di
jemuran). Ibu Intan memiliki wajah
yang lumayan imut (mirip anak-
anak). Dia sangat baik kepada
kami, apabila dia menagih uang
listrik dan uang telepon dia
meminta dengan sopan dan halus
sehingga kami merasa betah
tinggal di rumahnya.
Pada suatu malam (sekitar bulan
maret), kebetulan kedua kakak
kelasku lagi ada tugas lapangan
yang membuat mereka mesti
tinggal di sana selama sebulan
penuh. Sedangkan anak Bu Intan
yang bernama Devi lagi tinggal
bersama kakeknya selama
seminggu. Praktis yang tinggal di
rumah itu cuma aku dan Ibu
Intan, sedangkan Bi Ana tinggal
di sebuah rumah kecil di halaman
belakang yang terpisah dari
rumah utama yang dikost-kan.
Malam itu kepalaku sedikit pusing
akibat tadi siang di kampus ada
ujian Kalkulus. Soal ujian yang
sulit dan penuh dengan hitungan
yang rumit membuat kepalaku
sedikit mumet. Untuk
menghilangkan rasa pusing itu,
malamnya aku memutar
beberapa film bokep yang
kupinjam dari teman kuliahku.
“ Lumayan lah, mungkin bisa
ngilangin pusingku”, pikirku.
Aku memang biasa nonton bokep
di komputerku di kamar kosku
apabila kepala pusing karena
kuliah.
Pada saat piringan kedua disetel,
tiba-tiba aku dikagetkan oleh
suara pintu kamarku terbuka.
“ Hayo Aldo, nonton apaan
kamu?” Ibu Intan berkata
padaku.
“ Astaga, aku lupa menutup pintu
kamar” gerutuku dalam hati.
Ibu Intan telah masuk ke
kamarku dan memergoki aku
sedang nonton film bokep. Aku
jadi salah tingkah sekaligus malu.
“ Anu bu, aku cuma..” jawabku
terbata-bata.
“ Boleh Ibu ikut nonton?” katanya
bertanya padaku
“ Boleh..” jawabku seakan tak
percaya kalo dia akan nonton
film bokep bareng aku.
“ Dah lama nih Ibu ga nonton film
kaya’ gini. Kamu sering nonton
ya?” katanya menggodaku.
“Ah, gak bu..” jawabku
“Hmm.. bagus juga adegannya”
dia berkata sambil memandang
adegan yang berlangsung.
Akhirnya kami sama-sama
menonton film bokep tersebut.
Kadang-kadang dia meremas-
remas payudaranya sendiri yang
membuat kemaluanku berdiri
tegak. Dia memakai daster putih
malam itu kontras dengan
kutang dan celana dalam warna
hitam. Kadang aku melirik dia
dengan sesekali memperhatikan
dia yang sesekali memegang
kemaluannya dan
menggoyangkan pinggulnya
seperti cewe yang sedang
menahan kencing. Pemandangan
itu membuat darahku mendesir
dan membuat batang
kejantananku berontak dengan
sengit di dalam celana dalamku.
Tiba-tiba dia bertanya, “Do,
kamu pernah melakukan seperti
yang di film tadi ga?”
Aku terkejut mendengar kata-
kata itu terlontar dari mulutnya.
“ Belum” jawabku.
“Ah masa?” tanya dia seakan
tak percaya.
“ Bener bu, sumpah.. aku masih
perjaka kok” jawabku.
“Kalo pacarmu ke kamarmu
ngapain aja? ayo ngaku”
tanyanya sambil tersenyum kecil.
“ Ah ga ngapa-ngapain kok bu,
paling cuma diskusi masalah
kuliah” jawabku.
“Yang bener.. trus kalian ampe
buka-bukaan baju ngapain?
emang Ibu ga tau.. ayo ngaku
aja, Ibu dah tau kok” tanyanya
sambil mencubit pipiku.
Wajahku jadi merah padam
mendengar dia berkata seperti
itu, ternyata ia sering ngintipin
aku ama pacarku.
“ Iya deh.. aku emang sering
bermesraan sama pacarku tapi
ga sampai ML, paling jauh cuma
oral dan petting aja” jawabku
jujur.
“ Ohh..”, katanya seakan tak
percaya.
Akhirnya kita terdiam kembali
menikmati film bokep. Akhirnya
film itu selesai juga juga.
“ Do, kamu bisa mijit ga”,
tanyanya.
“ Dikit-dikit sih bisa, emang
kenapa bu?”
“Ibu agak pegel-pegel dikit nih
abis senam aerobik tadi sore. Bi
Ana yang biasa mijetin dah tidur
kecapekan kerja seharian, bisa
kan?”
“Boleh, sekarang bu?”
“Ya sekarang lah, di kamar Ibu
yah.. ayo”.
Aku mengikuti Ibu Intan dari
belakang menuju ke kamarnya.
Baru pertama kali ini aku masuk
ke kamar Ibu kosku itu.
Kamarnya cukup luas dengan
kamar mandi di dalam, kasur
pegas lengkap dengan ranjang
model eropa. Di sebelahnya ada
meja rias, lemari pakaian dan
meja kerja suaminya. Kamar yang
indah.
“ Ini minyaknya”, Bu Intan
menyerahkan sebotol minyak
khusus buat memijat.
Minyak yang harum, pikirku. Aku
emang belum pernah mijat tapi
saat ini aku harus bisa. Ibu Intan
kemudian membuka dasternya,
hanya tinggal kutang dan celana
dalam hitam yang terbuat dari
sutera. Melihat pemandangan ini
aku hanya bisa melongok takjub,
tubuhnya yang putih mulus tepat
berdiri di hadapanku.
“Ayo mo mijit ga? Jangan
bengong gitu”.
Aku terhentak kaget. Aku lupa
kalo saat itu aku mo mijit dia.
Akhirnya dia berbaring telungkup
dia atas kasur. Aku mulai
melumuri punggungnya dengan
minyak tersebut. Aku mulai
memijit dengan lembut. Kulitnya
lembut sekali selembut sutera,
kayanya dia sering melakukan
perawatan tubuh, pikirku dalam
hati.
“ Ahh.. enak juga pijatanmu Do,
aku suka.. lembut sekali. ”
Aku memijat dari bahunya sampai
mendekati pantat, berulang-
ulang terus.
“ Do, tolong buka kutangku. Tali
kutangnya ga nyaman, ganggu
pijatannya” katanya menyuruh
aku tuk membuka kutangnya.
Aku membuka tali kutangnya dan
Ibu Intan kemudian melepas
kutangnya. Sesekali aku memijat
sambil menggelitik daerah
belakang telinganya.
“ Ssshh.. ahh..” dia mendesah
apabila daerah belakang
telinganya kugelitik dan apabila
lehernya kupijat dengan halus.
“ Do, tolong pijat juga kakiku ya..”
katanya.
Aku mulai meminyaki kakinya
yang panjang dan ramping.
Sungguh kaki yang indah. Putih,
bersih, mulus, tanpa cacat
dengan sedikit bulu-bulu halus di
betis. Pikiranku mulai omes, aku
sedikit kehilangan konsentrasi
ketika memijat bagian kakinya.
“ Do, tolong pijat sampai ke
pangkal paha ya..” pintanya
sambil memejamkan mata.
Ketika tanganku memijat bagian
pangkal pahanya, dia
memejamkan mata sambil
mendesah seraya menggigit bibir
pertanda dia mulai “panas”
akibat pijatanku. Aku mulai nakal
dengan memijat-mijat sambil
sesekali menggelitik daerah-
daerah sensitifnya seperti leher
dan pangkal pahanya. Dia mulai
menggeliat tak karuan yang
membuat kejantananku berontak
dengan keras di celana dalamku.
Tiba-tiba dia berkata, “Do, bisa
mijit daerah yang lain ga?”
“Daerah yang mana bu?”
Tiba-tiba dia membalikkan
badannya seraya membimbing
kedua tanganku ke atas
payudaranya. Posisi badannya
sekarang adalah telentang. Dia
hampir telanjang bulat, hanya
tinggal segitiga pengamannya
saja yang belum terlepas dari
tempatnya. Aku tertegun melihat
pemandangan itu. Payudaranya
yang indah membulat menantang
seperti sepasang gunung kembar
lengkap dengan puncaknya yang
kecoklatan. Aku meremasnya
dengan lebut sambil sesekali
melakukan “summit attack”
dengan jari jemariku
mempermainkan putingnya.
Seperti memutar tombol radio
ketika mencari gelombang.
Ia mulai menggelinjang tak
karuan.
“ Ahh.. oohh.. sshh”, dia mendesah
sambil membenamkan kepalaku
menuju payudaranya.
“ Do.. Jilatin payudaraku Do..
cepat..”.
Aku mengabulkan permintaannya
dengan memainkan lidahku diatas
putingnya. Lidahku bergerak
sangat cepat mempermainkan
putingnya secara bergantian
seperti penari samba yang
sedang bergoyang di atas
panggung.
“ Oohh.. yyess.. uukkhh..” Dia terus
mendesah sambil
mencengkramkan tangannya di
pundakku.
Dia memeluku dengan erat.
Semakin cepat aku meminkan
lidahku semakin keras
desahannya. Lidahku mulai naik
ke daerah leher dan bergerilya
di sana. Bergerak terus ke
belakang telinga sambil tanganku
memainkan putingnya. Dia terus
mendesah dan dengan sangat
terlatih membuka baju dan
celanaku. Sekarang yang kupakai
hanya celana dalam yang
menutupi rudal Scud-ku. Kami
mulai berpelukan dan berciuman
dengan ganasnya. Ternyata dia
sangat ahli dalam mencium.
Bibirnya yang lembut dan lidah
kami yang saling berpagutan
membuatku serasa melayang
seperti lalat.
Dia mulai menciumi leherku dan
sesekali menggigit kupingku. Aku
semakin rakus dengan
menjilatinya dari mulai leher
sampai ujung kaki.
“ Aahh..”, aku mendesah ketika
tangannya menyusup ke
markasku mencari rudalku,
mengenggamnya dan
mengocoknya dengan tangannya
yang lembut.
Dengan bantuan kakinya dia
menarik celana dalamku sehingga
celana dalamku terlepas. Aku
telah telanjang bulat. Terlihat
seorang prajurit lengkap dengan
topi bajanya berdiri tegak siap
untuk melaksanakan tugas yang
diberikan oleh atasannya.
“ Oohh.. auhh.. sshh..”, dia terus
memainkan prajuritku dengan
tangannya.
Tanganku mulai membuka celana
dalamnya yang telah basah oleh
cairan pelumas yang keluar dari
dalam lobang vaginanya. Terlihat
sebuah pemandangan yang indah
ketiga segitiga pengaman itu
terlepas. Sebuah pemandangan
yang sangat indah di daerah
selangkangan. Jembutnya yang
rapi terurus dan vaginanya yang
berwarna merah muda membuat
darahku mendesir dan
kejantananku semakin menegang.
“ Oohh.. nikmaatt.. truss..”, dia
berkata sambil mendesah ketika
lidahku menggelitik daging kecil di
atas lobang vaginanya.
“ Oohh.. sshh.. Yess.. truuss..”
Semakin cepat aku memainkan
lidahku semakin cepat juga dia
mengocok kontolku. Aku terus
mempercepat ritme lidahku,
badannya semakin bergerak tak
terkontrol. Tanpa sadar
tangannya membenamkan
kepalaku ke selangkangannya,
aku hampir tak bisa bernapas.
Aku mencium aroma khas vagina
yang harum yang membuat
lidahku terus menjilati klitorisnya.
“ Ohh.. Ssshh.. Ukhh”, dia terus
mendesah.
“ Do.. ahh.. lebih cepat.. ukhh.. aku
mo keluar nih..”
“Ahh..”, terdengar lenguhan
panjang dari bibirnya yang
mungil.
“ Aukhh..”, tiba-tiba badannya
menegang hebat.
Kedua tangannya menggenggam
kepalaku dengan erat dan
vaginanya semakin basah oleh
cairan yang keluar. Dia mengalami
orgasme klitoris, yaitu orgasme
yang dihasilkan akibat perlakuan
pada kelentitnya.
“ Do, nikmat sekali.. Aku tak
menyangka kamu pandai bersilat
lidah”, katanya sambil napasnya
terengah-engah.
Ketika aku siap untuk
menembakkan rudalku, tiba-tiba
ia berkata, “Do, aku punya
sebuah permainan untukmu”.
“Permainan apa?” tanyaku.
“Pokoknya kamu ikut aja,
permainan yang mengasyikkan.
Mau?” tanyanya.
“Oke..”, jawabku.
Dia mengambil sebuah slayer dan
menutup mataku, kemudian
menyuruhku berbaring
terlentang dan mengikut kedua
tanganku dengan selendang
yang telah ia siapkan. Kedua
tanganku dan kakiku diikat ke
empat penjuru ranjang sehingga
aku tak bisa bergerak. Yang bisa
aku gerakkan cuma pinggulku
dan lidahku. Aku pun tak bisa
melihat apa yang dia lakukan
padaku karena mataku tetutup
oleh slayer yang dia ikatkan. Aku
seperti seorang tawanan. Aku
hanya bisa merasakan saja. Tiba-
tiba aku merasakan lidahnya
mulai bergerilya dari mulai ujung
kakiku. Trus bergerak ke
pangkal paha.
“ Ahh”, aku mendesah kecil.
Lidahnya terus bergerak ke ke
atas menuju perutku, terus
menjilati daerah dadaku.
“ Oohh.. Ssshh..”, aku mulai
mendesah keenakan. Lidahnya
terus naik ke leherku dan
mencium bibirku. Kemudian
lidahnya mulai turun kembali.
“ Ohh.. yyeess.. uukkhh..”, aku
mendesah hebat ketika lidahnya
bermain di daerah antara lubang
anus dan biji pelerku.
“ Aahh..”, aku terus mendesah
ketika dia mulai menjilati batang
kemaluanku dari mulai pangkal
sampai kepalanya, terus
menerus, membuat tubuhku
berkeringat hebat menahan rasa
yang amat sangat nikmat.
“Panjang juga ya punya kamu”,
Ibu Intan berkata padaku seraya
mengulum penisku masuk ke
dalam mulutnya.
“ Ahh.. eenaakk.. sshh”, aku
mendesah ketika batang
kejantananku mulai keluar masuk
mulutnya.
Sesekali dia menghisapnya
dengan lembut. Dia terus
mengulum penisku dan semakin
lama semakin cepat. Dia memang
ahli, pikirku. Tidak seperti
kuluman pacarku yang masih
minim pengalaman. Ibu Intan
merupakan pengulum yang mahir.
“ Aahh.. ahh.. ah.. aahh.. sshh..
teruss”, aku memintanya supaya
mempercepat kulumannya. Ingin
rasanya menerkam dia dan
menembakkan rudalku tapi apa
daya kedua kaki dan tanganku
terikat dengan mataku tertutup.
Tiba-tiba ada sesuatu di dalam
penisku yang ingin mendesk
keluar.
“ Ahh.. sshh.. Bu, aku mo keluarr”,
kataku
Mendengar itu, semakin cepat
ritme kulumannya dan
membuatku tak tahan lagi untuk
mengeluarkan spermaku.
“ Aaahh..”, aku mengerang hebat
dan tubuhku mengejang serta
gelap sesaat ketika cairan itu
mendesak keluar dan muncat di
dalam mulut Bu Intan.
Aku seperti melayang ke awang-
awang, rasanya nikmat sekali
ingin aku teriak enak.
“ Enak juga punyamu Do, protein
tinggi”, katanya seraya menjiltai
sperma yang tumpah.
Tiba-tiba aku tak merasakan
apa-apa. Tak lama kemudian aku
mencium aroma khas vagina di
depan hidungku. Ternyata Bu
Intan meletakkan vaginanya
tepat di mulutku dan dengan
cepat aku mulai memainkan
lidahku.
“ Sshh.. truuss.. ahh.. eennaakk..”,
ia mendesah ketika lidahku
memainkan kembali daging kecil
miliknya. Semakin ia mendesah
semakin aku terangsang.
Tak lama kemudian prajurit
kecilku kembali menegang hebat.
“ Aahh.. sshh.. Ukkhh.. yess”, ia
semakin hebat mendesah
membuat rudalku telah mencapai
ereksi yang maksimal akibat
desahannya yang erotis.
Lama kelamaan vaginya semakin
basah kuyup oleh cairan yang
keluar akibat terangsang hebat.
“ Aku ga tahan lagi Do”, katanya
seraya mengangkat vaginanya
dari mulutku.
Dia memindahkan vaginanya dari
mulutku dan entah kemana dia
memindahkannya karena mataku
tertutup oleh slayer yang dia
ikatkan kepadaku. Tiba-tiba aku
merasakan kemaluanku
digenggam oleh tangannya dan
dituntun untuk masuk ke dalam
sutau lubang hangat sempit dan
basah oleh cairan pelumas. Ahh..
baru pertama kali ini aku
merasakan nikmatnya vagina.
Meskipun Ibu Intan bukan
perawan tapi yang kurasakan
sempit juga juga vaginanya.
Dengan perlahan Ibu Intan mulai
membenamkan kemaluanku ke
dalam vaginanya sehingga
seluruh kemaluanku habis ditelan
oleh vaginanya. Aku merasakan
nikmat dan geli yang luar biasa
ketika kemaluanku masuk ke
dalam vaginanya. Posisiku
telentang dengan Bu Intan duduk
di atas kemaluanku persis
seperti seorang koboi yang
sedang bermain rodeo.
Dengan perlahan tapi pasti, Ibu
Intan mulai memainkan pinggulnya
naik turun secara perlahan.
“ Aaahh.. uuhh”, desahku ketika
Ibu Intan memainkan pinggulnya
naik turun secara perlahan dan
sesekali memutarkan pinggulnya.
Itu membuat diriku seperti
melayang ke udara. Aku pun
mulai menggoyangkan pantatku
naik turun.
“ Do.. giillaa.. enaakk ssekali..”,
teriak Bu Intan.
Aku tak mampu untuk berkata-
kata lagi. Aku hanya bisa
mendesah dan mendesah. Lama
kelamaan Ibu Intan mulai
mempercepat ritme
goyangannya, naik turun dan
sesekali memutarkan pinggulnya.
Tak mau kalah, aku pun mulai
mempercepat sodokanku.
“ oohh.. yess.. ohh..”, desah Ibu
Intan.
“ Ahh.. uhh.. goyang terruss buu”,
kataku.
“ Enaakk.. Doo.. tolong cepetin
sodokanmu Do..”, katanya.
Sodokanku semakin cepat dan
semakin cepat pula Ibu Intan
menggoyangkan pinggulnya.
“ Ohh.. shit.. oohh.. nnikkmmat..”,
Ibu Intan berteriak seraya
menjambak rambutku.
Dia mulai membuka slayerku. Aku
bisa melihat pemandangan yang
sungguh menakjubkan sekaligus
menggairahkan di depanku.
Tubuh Ibu Intan yang bergoyang
membuat rambutnya acak-
acakan dan seluruh tubuhnya
penuh dengan keringat.
Payudaranya yang putih bersih
dengan putingnya yang
kecoklatan ikut bergoyang
seirama dengan goyangan
pinggulnya yang mengocok
kemaluanku. Mukanya yang manis
dengan mata yang sesekali
merem melek, mulutnya yang
mendesah dan sesekali
mengeram serta wajahnya yang
dipenuhi keringat membuat ia
keliatan seksi dan
menggairahkan.
“ Ahh.. shit.. oh.. god.. ohh.. enak..”,
desahnya.
Aku melihat Ibu Intan yang setiap
hari terlihat lembut ternyata
memiliki sisi yang sangat
menggairahkan dan terlihat haus
akan sex. Ibu Intan pandai
memainkan ritme goyangannya,
kadang dia melambatkan
goyangan pinggulnya kadang
dengan tiba-tiba
mempercepatnya. Aku hanya bisa
mengikuti perrmainannya dan
aku sangat menikmatinya.
“Aaahh..!”, aku berteriak
keenakan ketika aku merasakan
diantara goyangannya yang
mengocok kemaluanku,
vaginanya seperti menghisap
kemaluanku.
“ Mampus kamu Do.. tapi enak
kan? Itu namanya “hisapan
maut”.. Ibu mempelajarinya
melalui senam Keggel..”, katanya
sambil memandangku dengan liar.
Aku semakin mempercepat
sodokanku dan Ibu Intan pun
mempercepat goyangannya naik
turun dan berputar secara
bergantian sesekali dilakukannya
hisapan maut yang membuat
seluruh tulang dalam tubuhku
seperti terlepas dari
persendiannya. Ibu Intan mulai
menciumi leherku dan bibirku.
Kami semain “panas” dan lidah
kami saling berpagutan
sementara sodokan kemaluanku
dan goyang pinggulnya semakin
lama semakin cepat.
“ Uhh.. ahh.. shh.. ahh..”, aku
mendesah.
Ibu Intan semakin ganas
menciumiku seraya aku
mempercepat sodokannya. Aku
merasakan sesuatu akan keluar
mendesak dari penisku.
“ Bu Intan.. ahh.. uhh.. shh.. akkuu
mauu kkeluarr..”, kataku.
“Ibu juga.. ahh.. tahann.. kita
keluarin sama-sama.. sshh ahh..”.
“Aku ga tahan lagi bu..”.
Tiba-tiba Ibu Intan berteriak
panjang.
“ Aaahh..” sambil memelukku
dengan sangat erat.
“ Aaahh..”. bersamaan dengannya
aku merasakan penisku
memuntahkan cairan hangat di
dalam vaginanya.
Kami berciuman dan kurasakan
tubuhnya dan tubuhku
mengejang hebat menahan
kenikmatan yang amat sangat.
Gelap sesaat yang diiringi
kenikmatan yang luar biasa
membuat tubuhku seperti
melayang jauh ke awang-awang.
Nikmatnya melebihi masturbasi
yang sesekali aku lakukan.
Kami sama-sama terkulai lemas
dengan napas yang terengah-
engah seperti dua olahragawan
yang telah balap lari. Ibu Intan
menatapku sambil tersenyum
manis. Aku hanya terdiam
menatap langit-langit.
“ Do, kamu nyesel ga ML sama
Ibu?”, tanya Ibu Intan kepadaku.
“Nggak bu..”.
“Terus kenapa kamu termenung
begitu?”.
“Aku cuma bingung, aku kan
mengeluarkan sperma di dalam
vagina Ibu, aku cuma khawatir
nanti Ibu hamil gara-gara saya”
“Ha.. ha.. ha.. jadi itu yang kamu
khawatirkan?”
“Iya bu. ”
“Tenang aja, Ibu teratur ko
minum pil kb. Jadi kamu ga perlu
khawatir?”
Apa yang dikatakannya
membuatku tenang. Akhirnya
kami berbicara ngalor ngidul. Dan
kami juga bercanda dan tertawa.
Kami ngobrol dan becanda dalam
keadaan bugil tanpa busana
sehelai benang pun menempel di
tubuh kami.
“ Do, kamu lapar ga? Ibu lapar”,
katanya.
“ Iya bu”
“Ibu masakin kamu nasi goreng
spesial buatan Ibu ya?”
“Boleh”, jawabku.
Kami berpakaian kembali. Ibu
Intan hanya menggunakan
daster putih tanpa memakai
kutang dan celana dalam,
sedangkan aku hanya
menggunakan celana pendek saja
tanpa menggunakan baju. Aku
menunggu di meja makan sambil
nonton MTV dan Ibu Intan di
dapur memasak nasi goreng.
Akhirnya nasi goreng pun selesai
di masak dan kami makan
bersama-sama di meja makan.
Meja makannya cukup besar,
terbuat dari kayu jati dengan
motif yang indah. Di sisi lain meja
makan terdapat susu kental
manis, teh celup, sebotol madu,
tempat sendok dan garpu,
serbet dan alas makan.
Setelah makan selesai, aku dan
Ibu Intan membersihkan meja
makan bekas kami makan. Kami
mulai bercanda-canda lagi. Tanpa
sadar aku mulai becanda sedikit
porno dan darahku mulai
berdesir melihat ia berpakaian
daster tanpa menggunakan
kutang dan celana dalam.
Tampak samar-samar putingnya
menonjol seakan ingin merobek
daster yang dikenakannya.
Bayangan hitam di
selangkangannya (jembut)
merupakan pemandangan yang
indah.
“ Ibu cantik dan seksi pake
daster itu”, kataku.
“Kamu ngerayu Ibu ya..”
“Bener lho bu, apalagi ga pake
kutang dan celana dalem”
“Ah kamu.. mulai nakal ya”,
katanya sambil nyubit pipiku.
Prajuritku sedikit demi sedikit
mulai kembali berdiri tegak. Ini
akibat dari mataku yang selalu
tertuju pada gundukan hitam di
balik daster Ibu Intan.
“ Lho.. kok bangun lagi prajurit
kecilmu, mo tempur lagi ya”,
katanya.
Aku tidak segera menjawab
karena tangan Ibu Intan sudah
mulai menyusup ke dalam
celanaku yang emang ga make
kolor. Dengan lembut ia mulai
mengocok penisku.
“ Ahh..”, aku mendesah kecil, lalu
kami mulai berciuman dengan
mesranya.
Tanpa sadar ketika berciuman
tangan kami bergerilya dan mulai
melucuti pakaian masing-masing.
Kami sudah telanjang bulat dan
kami masih terus berciuman
sementara tangan Ibu Intan
mengocok penisku dengan
lembutnya. Hmm.. rasanya nikmat
sekali. Tidak tau gimana awalnya
tetapi kami sudah berada di atas
meja makan, terbaring sambil
berciuman. Ibu Intan dalam posisi
telentang dan aku berada di
atasnya.
Aku mulai menciumi lehernya dan
terus bergerak ke belakang
telinga.
“ Aaahh..”, Ibu Intan mendesah
ketika lidahku mulai bergerak
lincah dan menjilati kedua puting
susunya secara bergantian
sementara tanganku yang lain
memainkan klitorisnya.
Vaginanya mulai basah akibat
cairan pelumas yang keluar dari
lubang kenikmatannya.
Tangannya terus mengocok
kontolku.
“ Do.. enak.. sshh..”, desahnya
sambil memejamkan mata.
Kami mulai berganti posisi, Ibu
Intan yang mengarahkannya.
Giliranku telentang dan Ibu Intan
berada di atasku dengan posisi
terbalik. Kami melakukan gaya
69. Aku menjilati klitorisnya
dengan rakus seperti orang
kelaparan yang bertemu
makanan sementara Ibu Intan
menghisap kontolku dengan
lembut dan sesekali menjilati
kepala penisku yang membuat
merasa seperti tersengat listrik.
“ Uhh.. sshh..”, aku mendesah
ketika hisapan Ibu Intan senakin
kuat.
Semakin cepat lidahku
menggelitik klentitnya semakin
ganas pula dia mengulum penisku.
Aku bangkit dan Ibu Intan
kuposisikan telentang di atas
meja dengan kaki mengangkang.
Terlihat dua buah gunung
kembar yang sangat indah yang
membuat darahku berdesir
hebat. Sementara di
selangkangannya terdapat bibir
merah muda yang merekah
lengkap dengan bulu-bulunya
yang membuat rudalku semakin
mengeras. Aku segera meraih
kaleng susu kental manis di
sampingku dan perlahan-lahan
mengoleskannya ke seluruh
tubuh Ibu Intan dari mulai leher
sampai dengan ujung kaki.
Kemudian aku mengoleskan madu
disekitar puting dan
kemaluannya. Aku mulai
menjilatinya mulai dari leher. Ibu
Intan hanya bisa pasrah dengan
mata terpejam dan dari
mulutnya terdengar desahan
kecil. Lidahku bergerak turun ke
arah bahunya, kemudian
bergerak menuju payudaranya.
Tubuh Ibu Intan menggelinjang
ketika lidahku menari-nari di
atas puncak gunung kembarnya.
“ Do.. aahh.. sshh.. Ibu ga tahan..
masukin Do..”, Ibu Intan meminta
aku segera menusukkan penisku
ke dalam vaginanya.
Tapi aku pura-pura tak
mendengar. Lidahku mulai
bergerilya lagi menjilati semua
susu kental yang menempel di
tubuhnya. Lidah mulai bergerak
lagi ke arah perut. Lalu aku mulai
menjilati dari ujung kaki Ibu
Intan, naik ke betis terus ke
pangkal paha. Ketika lidahku
menjilati cairan madu yang
membasahi sekitar kemaluan dan
klitorisnya, Ibu Intan
menggelinjang hebat dan tanpa
sadar semakin membenamkan
kepalaku ke vaginanya. Semakin
ganas aku menjilati madu yang
ada di klitorisnya, semakin tak
terkendali juga tubuh Ibu Intan
menggelinjang.
“Sshh.. oughh.. aahh.. pleeaassee..
masukin Do..”, katanya seraya
menghisap jari telunjukku.
Dia mengangkat kakinya dan
menyimpannya di atas bahuku
sementara aku berdiri di atas
lutut. Perlahan aku mulai
memasukkan penisku. Vaginanya
yang sudah basah kuyup dan licin
memudahkanku untuk
membenamkan seluruh penisku
ke lubang sorga dunia miliknya.
“ Aahh.. nnikmmaatt..”, teriaknya
sambil menggoyangkan
pinggulnya melingkar.
Aku mulai memainkan sodokanku.
Kecepatannya semakin lama
semaikn kutambah begitu pula
goyangan pinggul Ibu Intan.
“ Ibu.. enaakk.. uhh.. shh..”,
desahku sambil memejamkan
mata.
“ Aahh.. sshh.. mm..”, ia mendesah
sambil menghisap jari tanganku.
Suara becek vagina Ibu Intan
yang dikocok oleh penisku
terdengar seperti sebuah
nyanyian yang merdu. Sesekali
terdengar bunyi derak meja
makan tempat kami bercinta.
Kami berganti posisi. Ibu Intan
membelakangiku dengan posisi
menungging dan aku menusuknya
dari belakang. Tubuh kami
semakin basah kuyup oleh
keringat. Keringat Ibu Intan yang
bercampur dengan cairan susu
kental menimbulkan wangi yang
semerbak. Kami semakin
terhanyut ke dalam dunia yang
entah dimana.
“ Teerruuss.. cepett.. lebih..
cepett.. aahh..”, Ibu Intan
mendesah sambil memintaku
untuk mempercepat sodokanku.
Kami berganti posisi lagi. Aku
dalam posisi duduk dan Ibu Intan
duduk dipangkuanku sementara
penisku asyik bergulat di dalam
lubang vaginanya.
“ Aahh.. sshh.. goyang terruss..”,
desahku ketika Ibu Intan mulai
bergoyang dengan ganasnya.
Kami berciuman sementara
penisku dikocok oleh lubang
vaginanya Ibu Intan yang sangat
hangat sekali. Vagina Ibu Intan
semakin banyak mengeluarkan
cairan pelumas yang hangat.
Suara becek yang diakibatkan
oleh sodokan kontolku dan
beceknya lubang vagina Ibu Intan
semakin keras.
“ Aaahh.. sshh.. aahh.. oohh..
yess..” desahku.
“Faster.. oohh.. aahh.. ssh..
faster.. Do..”, desah Ibu Intan
sambil memintaku untuk
mempercepat sodokan penisku.
Sementara penisku “bermain” di
dalam lubang vaginanya Ibu
Intan, lidahku juga mulai
memainkan putingnya. Itu
membuat tubuh Ibu Intan
semakin bergerak tak karuan,
goyangan pinggulnya semakin
ganas dan sesekali dia menggigit
leherku untuk menahan
kenikmatan yang dia rasakan.
Semakin lama semakin
kupercepat sodokan penisku dan
gelitikan lidahku di putingnya
semakin kupercepat pula,
semakin ganas juga Ibu Intan
bergoyang.
“ Aahh..!”, Ibu Intan melenguh
panjang sambil memelukku
sangat erat sekali, tubuhnya
menegang hebat, matanya
terpejam dan kurasakan ada
cairan hangat kental mengguyur
penisku. Ibu Intan mengalami
orgasme. Aku semakin
mempercepat sodokanku. Tubuh
Ibu Intan mulai melemas tapi aku
terus mempercepat sodokanku.
“ Ahh.. Ibu Intan.. aku mo keluarr..
sshh.. ahh”, ada sesuatu di dalam
penisku yang mulai bergerak dan
geli bercampur enak yang
kurasakan mulai meningkat.
“ Do.. keluarin di luar ya.. di
mulutku..”, pinta Ibu Intan.
Aku mencabut penisku dan
dengan rakusnya Ibu Intan
segera menghisap kontolku
dengan ganas.
“ Aahh..”, tubuhku mengejang,
mataku terpejam dan tubuhku
seperti melayang menembus
atmosfer bumi. Rasanya sangat
nikmat sekali, sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Aku
memuncratkan air maniku di
dalam mulut Ibu Intan.
Ibu Intan terus menghisap
penisku dengan ganas.
“ Aahh.. sshh”, aku mendesah kecil
ketika penisku yang mulai loyo
terus dijilati oleh Ibu Intan.
Lidah Ibu Intan terus menjilatinya
sampai bersih. Lalu kami sama-
sama terbaring lemas di atas
meja makan. Kami masih
berpelukan.
“ Nikmat sekali hari ini.. thanks ya
Do..”, Ibu Intan berkata kepadaku
sambil menatapku.
“ Sama-sama.. aku seharusnya
yang berterima kasih..”, kataku
sambil membelai rambut Ibu Intan.
Kami lalu berciuman lalu
berpelukan. Karena kecapean,
kami pun langsung tertidur di
atas meja makan tempat kami
bermain kenikmatan.
Aku terbangun ketika cahaya
sudah terang. Aku melihat jam
dinding, wah.. ternyata pukul
setengah tujuh pagi. Kulihat Ibu
Intan masih tertidur di pelukanku
di atas meja makan yang
berantakan tanpa sehelai
benang pun menempel di tubuh
kami.
“ Bu.. bangun..”, bisikku di telinga
Ibu Intan.
Wajahnya terlihat begitu cantik
ketika tertidur.
“ Jam berapa sekarang Do?”
“Setengah tujuh”.
“Hah.. setengah tujuh?!”, Ibu
Intan kaget dan segera bangun.
Kami segera berpakaian dan
membereskan meja yang
berantakan. Kami takut
kepergok oleh Bi Ana. Ibu Intan
kemudian masuk kamarnya dan
mandi di kamar mandi yang ada
didalam kamarnya, aku pun
segera mandi di kamar mandi lain
yang letaknya dekat dengan
kamarku. Sekitar jam tujuh Bi
Ana datang dan mulai dengan
aktifitas sehari-harinya.
Untunglah aku dan Ibu Intan
tidak bangun terlambat sehingga
perbuatan kami semalam tidak
diketahui oleh Bi Ana.
*****
Setiap ada kesempatan dan
kalau nggak ada orang di rumah,
aku dan Ibu Intan sering
melakukan ML, kadang di
kamarnya, di kamarku, di kamar
mandi, ruang tamu dan di dapur
juga pernah. Tiga bulan kemudian
tepatnya bulan juni, Ibu Intan
dan anaknya menyusul suaminya
di Jepang. Dan aku pun pindah
kos karena rumah Ibu Intan diisi
oleh adik suaminya. Suami Ibu
Intan akhirnya mendapatkan
kerja di Jepang di tempat ia
kuliah, oleh karena itu sampai
saat ini Ibu Intan, anaknya serta
suaminya menetap di Jepang.
Aku tak akan pernah melupakan
pengalamanku ini seumur
hidupku. Terima kasih Ibu Intan,
Ibu kost-ku sekaligus guru
seksku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s