model panas ketika mulai meniti karier

Kehidupan yang dijalani model pendatang baru Amel Alvi dan Roro Fitria saat ini, mungkin tak terbayang sebelumnya. Kecintaan keduanya pada dunia entertaiment hanya berawal dari ketidaksengajaan.

Kepada merdeka.com, dua model panas ini berani buka-bukaan soal awal mula karier mereka. Segala sanjungan dan sandungan yang mereka alami ternyata membuat mereka menjadi bintang.

Roro Fitria, gadis kelahiran 29 Desember 1987 mengaku sudah bercita-cita jadi artis sejak kecil. Untuk mengasah kemampuannya, Roro kerap mengikuti lomba foto dan beberapa kali berhasil menjadi juara. Kecantikan yang ditunjang dengan tubuh seksi membuatnya semakin mantap mendalami profesi sebagai interteiner.

“Kalau ada tambahan image seksi, itu bukan saya yang buat memang dari marketnya dan kliennya seperti itu, apapun orang bilang, itulah saya. Penampilan saya itu bukan jorok tapi seni, saya bersyukur,” kata Roro sambil tersenyum.

Roro yang sebelumnya mengenyam pendidikan sarjana, menceritakan awal kariernya di Jakarta pada 2009. Saat selesai kuliah, tak pernah terlintas dipikiran Roro menjadi seorang artis. Dia malah berpolitik dengan mencalonkan diri menjadi caleg DPRD I Dapil DIY. Sayang, panggung politik bukan lahan yang tepat untuk membesarkan namanya dan akhirnya di memilih berkarier di Jakarta.

“Aku kalah tipis. Setelah itu akhirnya aku hijrah ke Jakarta berusaha untuk survive dan mandiri. Dan sesampainya ke Jakarta saya mulai terjun ke dunia entertainment yang sebenarnya memang telah saya tekuni mulai dari foto model sampai ke pemain sinetron, FTV dan film,” kisahnya.

Dalam kesehariannya kerap tampil seksi dan terbuka pastinya mendatangkan pandangan negatif dari berbagai pihak. Tapi dia memilih cuek dan menjalani yang menurutnya baik. “Saya bukan kebanyakan model seksi umumnya. Banyak yang saya bisa seperti wushu, perdalam bela diri body combat,” tambahnya.

Dia sadar profesinya ini penuh cobaan. Dalam arti banyak pandangan miring menyudutkan dirinya dengan meminta foto topless. Padahal dia sendiri mengaku bingung karena tubuhnya sesungguhnya tidak terlalu proporsional.

“Pernah ditawarin foto bugil, terus ada sponsornya. Ada juga yang pengusaha yang hobi fotografi, menawarkan juga. Padahal saya ga chubby, kaki saya kecil dan tangan saya juga kecil tapi kok dada saya besar,” ceritanya Roro sambil tertawa lepas.

Memiliki dada yang besar, Roro tak minder. Dia malah menjadikan itu sebagai nilai plus yang diyakininya bisa membuat iri wanita-wanita lain.

“Jadi keliatannya besar terus, saya seneng milik saya yang gede-gede (dada) itu. Kalau ganti baju cewek-cewek yang lain, pasti ngeliatin, iri mungkin.

Percaya nggak percaya ya, dada saya ini paling kecil di rumah, saya 36, kakak 38 dan mamah 40,” kelakarnya lagi.

Roro menganggap semua yang dijalani dan miliki saat ini adalah anugerah. Yang terpenting buatnya, dia bukan wanita yang bisa disepelekan kaum adam.

“Tidak dipungkiri emang ada. Tapi kembali ke individu masing-masing ada positif negatif yang ditanggung si model. Pernah saya (dibooking) via orang terdekat, temen maupun manager, bisa ga sih dibooking tapi selalu saya tolak, padahal mereka bilang saya tinggal sebut angka saja,” katanya sedikit kesal.

“Yang penting, I’ll do my best in each step of my life & always be my self dan saya yakin kita semua bisa sukses dengan usaha dan doa atas niat yang baik,” tandas si bungsu dari empat bersaudara ini.

Hal yang sama juga diceritakan model Amel Alvi. Kecintaannya pada dunia entertaiment berawal dari kegemarannya berpose di depan kamera.

“Aku dari dulu udah suka banget foto-foto. Sampe akhirnya pas mau lulus SMA ada teman yang nawarin jadi model majalah pria dewasa gitu, karena aku senang di foto ya aku ambil aja,” cerita Amel.

Selain menjadi model seksi di majalah pria dewasa seperti FHM, Maxim, ME dan Popular, wanita berusia 20 tahun ini juga mahir memainkan si piring hitam alias menjadi Disc Jockey (DJ). Untuk menambah penghasilanya, dia juga kerap membintangi beberapa sinteron, film dan model video klip.

“Kenapa pilih jadi model di majalah dewasa, ya karena nggak apa-apa, aku senang aja. Padahal dulu aku nggak tahu majalah itu,” ucapnya sambil tertawa.

Berpose sensual dengan busana minim, sudah menjadi pertimbangan ketika Amel memilih menjadi model di majalah itu. Tidak keberatan dan merasa risih.

“Ya biasa aja, karena itu tadi karena aku memang hobi difoto sekalipun dengan busana minim ya buat aku nggak masalah. Toh anak muda sekarangkan sering pake pakaian minim, ya kan,” tambahnya.

Berapa fee yang diterima Amel setiap kali motret?

“Jujur saja kalau model majalah-majalah itu nggak terlalu besar, tapi kalau privat sama satu dua fotografer dengan lokasi yang mereka tentuin yang lumayanlah puluhan juta,” katanya tanpa menyebutkan nominal pendapatannya.

Amel menegaskan, meski bersedia di foto untuk privat, dia tak pernah benar-benar tampil tanpa busana. Mengenai tanggapan miring orang-orang di sekitar, dia memilih tak ambil pusing.

“Aku nggak mau kalau sambil topless gitu, kalau cuma keliatan dada, pake lingerie, bikini juga nggak apa-apa. Itu biasalah. Tapi kalau diminta naked aku nggak mau loh, serius loh,” ucapnya.

“Soal godaan pasti adalah, tapi kan yang tahu aku dan kenyataannya aku kan memang nggak gitu. Tapi lagi-lagi karena aku cuek ya biarin aja mereka mau bilang apa,” tambahnya.

Lalu apa tanggapan orang terdekat seperti orang tua dan pacar soal profesi amel yang terbilang menantang itu? “Kalau mama si nggak apa-apa. Tapi kalau pacar, aku nggak punya pacar, males, aku nggak suka dilarang,” kata pemain film Pulau Hantu 3 ini mengakhiri perbincangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s