Godaan Kakak Ipar Kesepian

Aku Adi. Dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam artian kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun sebenarnya aku menyimpan rahasia terbesar dalam rumah tanggaku, terutama rahasia terhadap istriku.
Bermula pada beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berpacaran dengan istriku. Aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya. Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik perasaan kelaki-lakianku, yaitu kakak perempuannya yang bernama Ima (sebut saja begitu).

Ima dan aku seusia, dia hanya lebih tua beberapa bulan saja, dia sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan sudah dikaruniai 1 orang anak yang duduk di sekolah dasar. Dengan tinggi badan sekitar 160 cm, berat badan seimbang, kulit putih bersih, memiliki rambut indah tebal dan hitam sebahu, matanya bening, dan memiliki suara agak cempreng tapi menurutku sungguh seksi, sangat menggodaku.

Pada awalnya hubungan kami biasa-biasa saja, seperti misalnya pada saat aku mengapeli pacarku kerumahnya atau dia menemani pacarku main kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada yang istimewa sampai setelah aku menikah 2 tahun kemudian. Dia menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel berbintang (untuk bulan madu) dengan dia bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar sebelah kamarku.

Setelah menikah, frekuensi pertemuanku dengan Ima jadi lebih sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol mendalam sambil diselingi canda-canda konyol. Pada suatu hari, aku dan istri beserta mertuaku berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang nyaman. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat suasana bisa lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat sebentar, rupanya istriku dan ibu mertuaku mengajak untuk berbelanja keperluan bulanan. Tetapi aku agak mengantuk, sehingga aku meminta ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat dikaryakan untuk sementara. Jadilah aku tidur di kamar tidur tamu di lantai bawah.

Kira-kira setengah jam kemudian aku mencoba untuk tidur, anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga aku putus asa dan kuputuskan untuk nonton TV dahulu. Aku bangkit dan keluar kamar, tetapi ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see dan dengan panjang kausnya sampai 15 cm diatas lutut kakinya yang putih mulus.
“Lho..kok nggak ikut ?” tanyaku sambil semilir kuhirup wangi parfum yang dipakainya, harum dan menggairahkan,
“Tauk nih..lagi males aja gue..” sahutnya tersenyum dan melirikku sambil membuat sirup orange dingin di meja makan.
“Anto kemana..?” tanyaku lagi tentang suaminya.
“Lagi keluar negeri, biasaa… urusan kantor..” sahutnya lagi. Iman berjalan lesu.
Lalu aku menuju ke sofa di depan TV kemudian aku asik menonton film di TV. Sementara Ima berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).
Sedang asik-asiknya aku nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku dari lantai atas;
“Di..Adi…”
“Yaa.. Ada apa?” sahutku,
“Kesini sebentar deh Di..”, dengan santai aku naik tangga dan mendapatinya sedang duduk di sofa besar untuk 3 orang sambil minum sirup orangenya dan nonton TV. Di lantai atas juga terdapat ruang keluarga mini yang lumayan apik dengan lantai dilapisi karpet tebal dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang diduduki Ima.

“Ada apa neng..?” kataku bercanda setelah aku sampai diatas dan langsung duduk di sofa disampingnya, aku diujung kiri dekat tangga dan Ima diujung kanan.
“Rese lu.. sini dong temenin gue ngobrol ama curhat” katanya,
“Curhat apaan?”,
“Apa ajalah, yang penting gue ada temen ngobrol” katanya lagi.
Maka, selama sejam lebih aku ngobrol tentang apa saja dan mendengarkan curhat tentang suaminya. Baru aku tahu, bahwa Ima sebenarnya bete berat dengan suaminya, karena sejak menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari sebulan ditinggal.
“Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak nemenin gue sekarang?” tanyanya sambil menggeser duduknya mendekatiku lalu Ima meletakkan gelasnya dimeja samping. Aku dengan cepat bisa menebak apa yang ada dipikirannya dan yang diinginkannya saat ini.
“Kan gue sekarang lagi nemenin lu..” jawabku lagi sambil membenahi posisi dudukku agar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin mendekat ke posisi dudukku. Setelah mendekat duduk denganku lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil bertanya,
“Mau..?”, aku diam saja sambil tersenyum dan memandang matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak.
“Gimana sama orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana kalau mendadak Riska (istriku) dan nyokap pulang ?” tanyaku,
“Mereka nggak akan datang kalau aku nggak nelpon dan lu tau sendiri kan nyokap bisa jam-jaman kalau belanja.” jawabnya semakin dekat ke wajahku.
Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu dekat di wajahku. Diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi, tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadi diam kini mulai bergerak secara halus membelai-belai pinggang kanannya.
“Mmhh..mmhh..” nafas Ima mulai memburu dan mendengus-dengus, kami mulai saling melumat bibir dan mulai melakukan french kiss. Bibir kami saling menghisap dan menyedot lidah kami yang agak basah, very hot french kiss ini berlangsung dengan dengusan nafas kami yang terus memburu.

Aku mulai menciumi dagunya, pipinya, keningnya, kujilati telinganya sebentar, menuju belakang telinganya, kemudian bibir dan lidahku turun menuju lehernya, kuciumi dan kujilati lehernya,
“Ehhnngg.. Ahhdhii.. oohh.. honeey.. enngghh” desahnya sambil memejamkan matanya. Menikmati permainan bibir dan lidahku di leher jenjangnya yang putih. Kedua tangannya merengkuh kepalaku, sementara kepala Ima bergerak kekiri dan kekanan menikmati kecupan-kecupan serta jilatan di lehernya.
Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian turun membelai dan mengusap-usap beberapa saat dipaha kanannya yang putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus gombrongnya. Menuju buah dadanya. Aku agak terkejut merasakan buah dadanya yang ternyata besar, bulat dan masih kencang, padahal setahuku Ima memberikan ASI eksklusif ke anak tunggalnya selama setahun lebih.

Tanganku bergerak nakal membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit meremas pinggiran bawah buah dada kanannya.
“Toketmu masih kencang dan kenyal ya neng.” kataku sambil kulepas permainan lidahku dilehernya. Dan memandang wajahnya yang agak bersemu merah. Tanpa menyudahi remasan tanganku di buah dada kanannya.
“Kamu suka yaa..” sahutnya sambil tersenyum dan aku mengangguk.
“Terusin dong..” pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah.
“Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp..” ciuman panas kami beradu kembali. Sangat panas. Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai, meremas, dan memuntir puting yang kenyal dan mengeras.

Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun membelai tonjolan di selangkanganku yang masih terbungkus celana katun. Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga membuat aku makin terangsang. Penisku makin mengeras dibuatnya. Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun menuju selangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah. Merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku.

Pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku dilehernya yang jenjang dan halus. Diiringi desahan dan rintihannya berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon jemariku untuk masuk kedalam CDnya. Meningkatkan finger playku. Tanpa menunggulebih lama, jariku bergerak membuka ikatan kanan CDnya dan mulai membelai rambut kemaluannya yang ternyata tebal dan lebat. Jari tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di labia mayoranya. Sementara jari telunjuk dan jari manisku bekerja menggesek bagian atas vaginanya dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan. Sangat lembut. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s